Sempat bingung mau naik pesawat apa kapal laut. tapi biasanya si kapal laut. Naik pesawat memang cepat, tapi rasanya jadi kehilangan moment arti dari pperjalanan. kalao naik kapal laut kan banyak hal yang kita temui disana. Selain bisa singgah-singgah dibanyak pelabuhan, juga banyak melihat peristiwa sosial selama perjalanan terutama didalam kapal, khususnya penumpang ekonomi, hahhaaaa.
Ya, naik kapal. Brangkat Rabu, 17 juli 2013 dari surabaya.
Selasa 16 juli2013 jam 22.00 mesti berangkat ke surabaya naik travel. Tapi travel datang terlalu cepat selagi aku siap-siap. Jadi ya agak keburu-buru. Travel datang jam 21.00. Sampenya di agen travel, diberitahu bahwa keberangkatan ke Surabayamesti menunggu penumpang dari Jogja yang baru saja berangkat. Ufh! dongkol banget rasanya, boring. Jadilah kita baru berangkat jam 23.30. Ternyata hanya ada dua penumpang dan cewek semua. Aku gak banyak bicara dengan penumpang ini. Sedikit saja, lagipula dia lebih memilih tidur dan aku diam sajalah.
Seperti biasanya, ditengah perjalanan pasti akan mampir di rest stop untuk makan. Aku sekalian Sahur. Ini jam 01.30. Ketika perjalanan berlanjut lagi sopir mengatakan akan jalan dengan santai karena jadwal pesawat dan kapal masih besok siang. Benar saja, di perjalanan dia sering berhenti di suatu tempat terutama warung kopi. Ye..., dia mah namanya ngantuk itu. Dasar.
Tidak seperti biasanya kok ini mesti mampir ke agen travel yang di Surabaya. Eh ternyata aku yang dipindah ke mobil yang memang ke pelabuhan mobil yang tadi ke bandara. Over penumpang maksudnya.
Eh, sopir yang mengantarku ke pelabuhan ini malah mengenalku, katanya dia pernah mengantarku setahun yang lalu. Ya aku ingat waktu aku berangkat ke makassar itu.
Sampe di pelabuhan, tampak beda pelabuhannya. O, sedang menuju pelabuhan modern. Apa itu pelabuhan modern? Makanya transit penumpang dipindah. Jadi jauh banget dengan tempat sandarnya kapal. Ruang tunggunya belum dibuka, jadi mesti menunggu di emperan gedung. Aku segera menitipkan barangku ke orang yang sepertinya juga penumpang yang akan berangkat, karena aku kebelet pipis dan butuh ke kamar mandi. Tapi ngomong-ngomong aku dari tadi diikuti penjual tikar terus. Tapi pas aku ke kamar mandi kok dia gak mengikuti aku ya? Usai dari kamar mandi aku liat diatas barang-barngku ada lipatan tikar. Lho kemana ni tadi yang punya tikar? Tidak lama kemudian dia sudah mendekat, dan....ya sudah kubeli tikarnya seharga 5000. Duduk dan, lho, pedagang kelilingnya kok pada dilur? O iya ya sedari tadi tidak ada penjual masuk ke sekeliling penumpang kecuali penjual tikar tadi. Mungkin dua ngeyel. Tapi penjual yang ada diluar pun masih sering diusir sama orang-orang pake seragam.
Duduk dan....i have friends hahhaha. Rombongan travel dari Banyuwangi tapi beda tujuan. yang Ibu mau ke Nabire dan masih menunggu teman-temannya yang lain. Dan yang satunya anak muda tanggung yang baru saja lulus SMP, tujuannya ke Sorong. Tampak lugu dan setia hahaa. Yang ibu ini dia gak punya tiket, katanya dia punya kenalan dikapal. Dan dia sudah bias bepergian naik kapal tanpa membayar tikeet dengan mengendalkan kenalannya itu. Berani atau nekat sekali dia. Tapi memang banyak juga kok orang seperti itu. Entah kenapa kok masih ada praktik seperti itu.
Time to boarding pass. Tiket harus distempel di loket habis itu masuk ke ruang tunggu. Mengantri, sensor barang dan kita dicegat oleh petugas yang mengatakan dirinya petugas asuransi. Jadi kita mesti bayar asuransi sebesar 5000. Lho tapi yang lain itu kok nggak? Ah, algi-lagi ketemu aturan yang nggak jelas.
Dan sekarang kita sudah ada di ruang tunggu. Tapi kita cuma berdua, ibu yang tadi masih menunggu temannya. Jadi aku bareng anak yang baru lulus smp ini. Tidak lama kemudian ada cowok dekati kita. Umurnya sih kayaknya gak jauh dari aku, tapi mestinya lebih muda cieee berasa tua banget deh. lha disini baru kita enyebut nama, yang baru lulus smp ni namanya Zen, trus cowok baru ni dia tujuannya ke Poso turun di Pantoloan,namanya Pay.
Tu dia suasana di ruang tunggu.
Ruang tunggu yang panas. Kipas angin sedikit. Dah gitu pake ada karokean yang malah bikin pekak telinga, minta bayaran lagi. Begh!
Tapi akhirnya gerbang dibuka juga buat masuk kapal. Tapi dirasa-rasa kok barangku berat banget ya? Beruntung pas jalan gitu Pay langsung meraih tasku dan dia yang bawa. hwa.....ateng bawa kayu... tengkyu tengkyu tengkyu...... Tapi antara Pay sama Zen kok terpisah jauh.... Tapi akhirnya kita satu tempat dan ketemu biarpun mesti pake bayar kasur segala!
Hah! tepar setelah usek-usekan usaha naik kapal, saingannya porter yang berbadan kekar dan kuat hah!
Zen,pemuda lugu. dia dapat julukan pak uztad hahaha. dan si kecil ini sebenarnya kembar tp yg satu gak ikut kepoto, bernard dan benaya
ipul yg sedang tidur. tapi memang perjalanan gini enaknya tidur...
ah, laut!
cewek2, adiknya ipul (aduh siapa ya namanya), ona dan aku.
Ini nih komplitnya. tambah ipul sama ipay. kok pay pake jinjit ya?
Senengnya bawa dan baca buku ini. bisa menghilangkan kejenuhan karena terombang-ambing ombak laut.
Persinggahan pertama di Balikpapan. Akhirnya aku menginjak kalimantan juga,hahaa. Disini kami berpisah dengan ipul dan adiknya. Ni waktu jalan-jalan di pelabuhannya Balikpapan.
Perjalanan mesti berlanjut lagi
Esok harinya kapal udah berlabuh di pelabuhan Pantoloan, Sulawesi Tengah. Itu artinya harus berpisah lagi dengan teman satu perjalanan.Ipay, dan tante esther dona dan anak2nya yang imut...
Dan ini poto terakhirku dengan ipay, sayonara pay...
Usai dari Pantoloan batre kameraku drop. Dicharge, gak bisa juga. Malah bikin setres. Lalu untuk menghilangkan kegalauan karena batre kamera dan karena teman perjalanan yang berkurang, aku ma ona menghibur diri dengan mengepang rambutku. Tapi sayang prosesnya tidak terdokumentasi. Selama prosses dikepang rambutku oleh ona, wow...sakitnya rambut ni ditarik-tarik.
Ngomongin soal kamera lagi, jadi kepikiran di pelauhan selanjutnya untuk turun beli charger yang desktop tu siapa tahu bisa. Dan benar saja, di pelabuhan selanjutnya di Bitung aku ngajak Zen untuk menemaniku beli desktpo. Dan ternyata bisa juga batre kamera di charge pake desktop.
Ni hasil kepangan ona, hahahaa lapangannya lebar banget. Dikasih jalan kutu, wah keliatan nih kalo kutunya lagi jalan-jalan
.
Tapi rambut ni lama-lama rasanya ketarik-tsrik, bikin pusing dah gitu gatal pula. Akhirnya aku lepas, tapii....bentuknya?
hahahahaaha
Semuanya jigrak, tanpa terkecuali
Seseorang pasti merindukanku, hahahaa
Dikendalikan seperti biasanya, ups! aku seperti fido dido!
Nah, begini saja.
Diperjalanan dari Bitung sampe Sorong aku mengalami demam luar biasa, juga migren. Hawa dan suasana didalan kapal ekonomi terutama memang tidak sehat. Udara ac yang bercampur dengan asap rokok memang bikin tidak seehat. Belum lagi bau sampah, juga minimnya kesadaran penumpang tentang kebersihan terutama tentang membuang sampah dan toilet. Tidak semua penumpang mengerti bagaimana bertindak dengan baik di toilet, terutama toilet kapal. Di pelabuhan Ternate aku gak turun, masih sakit. Di Pelabuhan Sorong, Zen harus turun padahal hujan gerimis diluar sana terus mengucur. Dan esoknya aku sampai di Manokwari. Aku dan Ona mesti turun. Good bye, Dorolonda......
Aku dan Ona
Akhirnya aku sampai juga dirumah hampir dua minggu ini. Tapi karena kemarin masih sakit dan jaringan internet yang lemot, akhirnya uplod foto dengan cara dicicil.
Btw, terima kasih buat semua teman di perjalanan. Sewaktu dari Surabaya ke Balikpapan Kapal goyang terus karena ombak besar. Aku sempet takut banget, apalagi ipay cerita kalo itu adalah perairan dimana tamplmas tenggelam. huh, ngeri. Tapi mungkin juga karena aku sudah lama tidak naik kapal.
Memang benar banyak peristiwa sosial yang bisa dilihat. Angkuhnya para pegawai kapal dari yang paling rendah sampai yang tertinggi. Kebersihan yang tidak jadi jaminan. Menu makan yang selalu dikeluhkan penumpang dari tahun ke tahun. Banyaknya penumpang yang tidak memakai tiket. Adanya preman di kapal yang hampir selalu mencari peluang pada penumpang tanpa tiket. Pengumuman yang yang gelas tujuannya, seperti ketika speaker mengatakan bahwa tempat dan kasur tidak dijual. Toh nyatanya pada prakteknya banyak calo yang menjual kasur ke penumpang. Atau ketika peringatan dilarang merokok di dek penumpang karena itu ruangan ber ac. Ah semuanya juga cuma omong doang. Mereka gak turun ke lapangan. Aku juga melihat penumpang, yang sepertinya adalah pedagang sukses di papua sana, tapi dia bahkan rela untuk tidak membayar tiket. Gila!
Adalagi ketika tante ester kehilangan dompetnya, petugas tidak bergerak segera. Dan banyak lagi permasalahan tante ester yang tidak dilayani dengan baik. Bravo tante ester.
Satu kapal saja kita sudah seperti melihat Indonesia........
Terima kasih.....
buat Ipay, ipul, Zen, Ona, Tante Ester dan semua teman yang tidak bisa disebut namanya. Karena perkenalan dan obrolan itu lebih indah ketimbang menanyakan nama, maksudnya sampe lupa menanyakan namanya hehehehe :)





























