Senin, 21 April 2014

Pantai Losari Makassar



Sebenarnya mumpung lagi ada di Makassar ni, jadi jangan cuma melewatkan waktu hanya dengan berdiam diri dirumah. Karena, sumpah! Makassar tu panaaaaasssss banget. Biarpun sudah menyalakan dua kipas angin, duduk sambil nonton tv, kurang santai apa coba, tapi tetap saja puanas menyengat. Yang ada malah masuk angin. Untuk itu pergilah kita ke pantai Losari.

Pantainya sih agak berbeda dengan pantai-pantai yang lain ya. Karrena biasanya yang namanya pantai itukan jauh dari kota/keramaian, udah gitu pasti ada nuansa pasir, kelapa, ombak, pelampung dll. Tapi disini nggak, jadi pantainya tu kayak dermaga gitu deh. Pasir tertutup beton/semen/paving blok. Udah gitu lalu lalang kendaraan juga dekat sekali. Sepertinya nggak susah kalo harus naik kendaraan umum untuk mencapai pantai ini. 

Pantai ini sangat layak buat menghabiskan waktu dengan keluarga di sore hari. Pantainya sangat aman, asal anak-anak tetap diawasi. Secara pribadi, saya yang lebih menyukai segala sesuatu untuk dinikmati sendiri, atau tempat-tempat indah yang tersembunyi,  pantai ini rada gimana gitu. Buat saya kurang nyaman untuk sendiri. Jadi ya bener pantai ini memang untuk keluarga, rame-rame gitu. Karena semakin menuju kearah senja, orang-orang akan mulai berdatangan ke pantai ini buat menikmati sunset yang kebetulan memang pas di pantai ini. 

Tapi saya tidak kecewa karena bnyak jajanan ditempat ini dengan harga yang murah meriah dan enak pula. Banyak para penjual menggelar dagangan dari gorengan, minuman, sampai buah atau rujak yang rasanya memang bener-bener pas buat dinikmati bersama. Saya sampai pengen nyobain semua jajanan. Habis itu naik sepeda air juga boleh hehehee.

Kalo mau jajanan yang lebih khas Makassar punya lagi, silahkan berjalan menjauh dari pantai. Dipinggir jalan raya banyak gerobak-gerobak yang menyediakan jajanan khas yang disebut dengan Pisang Epe. Itu semacam pisang yang belum begitu matang, trus dikupas dan dibakar. Habis dibakar pisangnya dipenyet dengan menggunakan alat khusus entah namanya apa. Pisang yang sudah dipenyet itu disajikan dengan gula merah yang sudah dicairkan. Karena pingin mengobati rasa penasaran, saya memesan satu porsi aja dulu buat rame-rame nanti kalo tertarik banget bisa nambah. Tapi wek!, perut saya langsung eneg, mual, karena rasa gula merah yang teramat manis dan kental sekali.  Sama halnya ketika mencoba minuman khas Makassar , Sarabak. Campuran gula merah dan jahe benar-benar sangat menarik tapi karena juga ada elemen santan dan susu yang tidak kalah kental juga membuat perut saya langsung diputer-puter. Ampun, nyerah, mungkin lidah saya masih lidah Jawa hahha.
Kalo mau memberi kan uang pada pengamen yang mampir didepan kita tanpa diundang, disarankan anda jangan memberi uang koin. Pengamen dipantai Losari tidak menerima uang koin. Maunya minimal seribu rupiah, hahahaha bisa-bisa mereka lebih kaya dari si penjual pisang epe. Atau mungkin di Losari pengamen memang sangat mulia. 


Kesendirian memang milik kita sendiri, harus diciptakan sendiri, apapun keadaannya.
Salam, Makassar 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar