Sebenarnya mumpung lagi ada di Makassar ni, jadi jangan cuma
melewatkan waktu hanya dengan berdiam diri dirumah. Karena, sumpah! Makassar tu
panaaaaasssss banget. Biarpun sudah menyalakan dua kipas angin, duduk sambil
nonton tv, kurang santai apa coba, tapi tetap saja puanas menyengat. Yang ada
malah masuk angin. Untuk itu pergilah kita ke pantai Losari.
Pantainya sih agak berbeda dengan pantai-pantai yang lain
ya. Karrena biasanya yang namanya pantai itukan jauh dari kota/keramaian, udah
gitu pasti ada nuansa pasir, kelapa, ombak, pelampung dll. Tapi disini nggak,
jadi pantainya tu kayak dermaga gitu deh. Pasir tertutup beton/semen/paving
blok. Udah gitu lalu lalang kendaraan juga dekat sekali. Sepertinya nggak susah
kalo harus naik kendaraan umum untuk mencapai pantai ini.
Pantai ini sangat layak buat menghabiskan waktu dengan
keluarga di sore hari. Pantainya sangat aman, asal anak-anak tetap diawasi. Secara
pribadi, saya yang lebih menyukai segala sesuatu untuk dinikmati sendiri, atau
tempat-tempat indah yang tersembunyi, pantai ini rada gimana gitu. Buat saya kurang
nyaman untuk sendiri. Jadi ya bener pantai ini memang untuk keluarga, rame-rame
gitu. Karena semakin menuju kearah senja, orang-orang akan mulai berdatangan ke
pantai ini buat menikmati sunset yang kebetulan memang pas di pantai ini.
Tapi saya tidak kecewa karena bnyak jajanan ditempat ini
dengan harga yang murah meriah dan enak pula. Banyak para penjual menggelar
dagangan dari gorengan, minuman, sampai buah atau rujak yang rasanya memang
bener-bener pas buat dinikmati bersama. Saya sampai pengen nyobain semua
jajanan. Habis itu naik sepeda air juga boleh hehehee.
Kalo mau jajanan yang lebih khas Makassar punya lagi,
silahkan berjalan menjauh dari pantai. Dipinggir jalan raya banyak
gerobak-gerobak yang menyediakan jajanan khas yang disebut dengan Pisang Epe. Itu
semacam pisang yang belum begitu matang, trus dikupas dan dibakar. Habis dibakar
pisangnya dipenyet dengan menggunakan alat khusus entah namanya apa. Pisang yang
sudah dipenyet itu disajikan dengan gula merah yang sudah dicairkan. Karena pingin
mengobati rasa penasaran, saya memesan satu porsi aja dulu buat rame-rame nanti
kalo tertarik banget bisa nambah. Tapi wek!, perut saya langsung eneg, mual,
karena rasa gula merah yang teramat manis dan kental sekali. Sama halnya ketika mencoba minuman khas Makassar
, Sarabak. Campuran gula merah dan jahe benar-benar sangat menarik tapi karena
juga ada elemen santan dan susu yang tidak kalah kental juga membuat perut saya
langsung diputer-puter. Ampun, nyerah, mungkin lidah saya masih lidah Jawa
hahha.
Kalo mau memberi kan uang pada pengamen yang mampir didepan
kita tanpa diundang, disarankan anda jangan memberi uang koin. Pengamen
dipantai Losari tidak menerima uang koin. Maunya minimal seribu rupiah, hahahaha
bisa-bisa mereka lebih kaya dari si penjual pisang epe. Atau mungkin di Losari
pengamen memang sangat mulia.
Kesendirian memang milik kita sendiri, harus diciptakan
sendiri, apapun keadaannya.
Salam, Makassar 2012





Tidak ada komentar:
Posting Komentar