Kalau saya ditanya, tempat manakah yang membuat saya ingin
kembali kesana? Saya akan jawab desa Mario, Pangkajene dan Kepulauan Sulawesi
Selatan. Tempatnya asik banget. Sekalipun ada modernitas tapi ada sesuau yang
tetap terjaga alami disana. Rumah-rumah masih dibangun dengan cara lama,
tradisi dan keyakinan masih dijaga, antar warga masih bersetia kawan. Belum lagi
bukit-bukit dan pegunungan yang sangat menawan. Benar-benar beda dengan jawa.
Pada suatu waktu, usai pernikahan adik saya. Kami sekeluarga
diajak untuk berkenalan dengan keluarga adik ipar saya. Dan keluarga tersebut
berada di desa Mario dan sekitarnya di Pangkajene dan kepulauan.
Sayangnya kalo ditempuh dari Makassar jauh sekali, sekitar
3-4jam perjalanan darat dengan kendaraan roda empat. Dari kota Makassar
pelan-pelan kita akan melihat perubahan dari alam kota menuju desa. Rumah-rumah
yang mulai jarang, tapi jalanan tetap saja mulus sampai tujuan. Ketika mulai
memasuki kabupaten Pangkajene dan Kepulauan kita akan melewati hutan jati yang
rimbun dikanan-kiri jalan. Lalu mulai bergantian dengan hutan rimba, savana,
semak-semak dan banyak pemandangan indah dikiri-kanan jalan. Benar-benar
memanjakan mata melihat jurang dan ngarai hijau diantara bukit kapur yang
menjulang.
1.
Ladang dan Kuda
Mulai memasuki daerah yang dituju
, banyak terlihat pagar-pagar bambu dipinggir jalan. Tapi bukan memagari rumah,
melainkan kebun dan sawah. Ceritanya, orang lokal sini banyak yang memelihara
kuda. Dan kuda ini banyak yang dipelihara secara liar. Maksudnya mereka
dibiarkan mencari rumput sendiri. Nah agar aktivitas merumput ini tidak
mengganggu kebun, ladang, dan sawah warga, maka warga berinisiatif dengan
memagari kabun mereka. Unik kan? Kenapa bukan kudanya saja yang dikandang? Buat
saya ini cara yang sangat bijaksana dengan tidak mengganggu kemerdekaan si
kuda. Di tempat mbah saya sudah tidak ada lagi sapi yang merumput diluar
kandang.
2.
Rumah dan sekitarnya
Rumah di desa Mario masih sangat tradisional yaitu rumah dengan
bentuk panggung. Rata-rata semua warga rumahnya panggung. Sekalipun ada juga
yang sudah punya rumah tembok dan bukan panggung. Tapi rumah panggung ini
mengesankan sekali. Bahkan termasuk dapurpun juga ada diatas panggungnya. Diluar
rumahnya juga tidak kalah menarik. Masih banyak terdapat batu-batu besar
disekitar rumah, bahkan juga semak belukar dibelakang rumah masih muri alami
tak tersentuh
3.
Pemakaman tanpa nama
Ketika kami diajak ke makam almarhum ibu dari adik ipar
saya, ada terdapat pemakaman yang unik sekali. Kalau basanya pemakaman pasti
ada symbol perbedaan keyakinan dan papan nama serta tempat tanggal lahir dan
meninggal, maka disini semua itu tidak ada. Di pemakaman sini hanya ada dua
perbedaan batu nisan yaitu laki-laki atau perempuan. Ditengah-tengah pusaranya
ditancapkan batu panjang yang lumayan besar, dipusara tersebut tertancap satu
batu atau dua. Kalau batu yang tertancap satu maka dia adalah laki-laki. Kalau yang
tertancap dua, maka dia perempuan. Papan nama dan kejelasan identitas tidak ada
sama sekali. Wow, unik sekali. Berarti yang rempong keluarga yang ditinggalkan
dong ya? Masa harus ngapalin dimana aja letak makam leluhurnya itu.
4.
Kuda dan satenya
Ngomong-ngomong lagi tentang kuda. Para warga Mario memang
banyak memelihara kuda daripada sapi. Bahkan kalo ada acara besar daging kuda
ini pun juga mereka konsumsi. Ya seperti halnya didaerah lain yang mengolah
sapi atau kambing gitu. Kebetulan saya sempat mencicipi sate kudanya. Enak sekali.
Cuma saja dagingnya rada alot, biar begitu masih bisa digigit kok. Oya, Mario
juga merupakan desa penghasil kemiri yang lumayan banyak juga lho.
5.
Keluarga
Pada akhirnya semua ini adalah untuk mempertemukan keluarga
agar yang jauh semakin dekat dan kenal, dan semuanya bergembira. Dan si
pengantin baru mendapat do’a khusus dari si tetua keluarga. Selamat ya?
Mario itu keren, kita seperti berada di balik gunung yang
setengah lingkaran. Jadi setiap harinya matahari baru bersinar kira-kira pukul Sembilan
pagi hehehhee.
Itulah Mario…..





































Tidak ada komentar:
Posting Komentar