Selasa, 22 April 2014

Uniknya Mario, Pangkajene dan Kepulauan




Kalau saya ditanya, tempat manakah yang membuat saya ingin kembali kesana? Saya akan jawab desa Mario, Pangkajene dan Kepulauan Sulawesi Selatan. Tempatnya asik banget. Sekalipun ada modernitas tapi ada sesuau yang tetap terjaga alami disana. Rumah-rumah masih dibangun dengan cara lama, tradisi dan keyakinan masih dijaga, antar warga masih bersetia kawan. Belum lagi bukit-bukit dan pegunungan yang sangat menawan. Benar-benar beda dengan jawa.
Pada suatu waktu, usai pernikahan adik saya. Kami sekeluarga diajak untuk berkenalan dengan keluarga adik ipar saya. Dan keluarga tersebut berada di desa Mario dan sekitarnya di Pangkajene dan kepulauan.
Sayangnya kalo ditempuh dari Makassar jauh sekali, sekitar 3-4jam perjalanan darat dengan kendaraan roda empat. Dari kota Makassar pelan-pelan kita akan melihat perubahan dari alam kota menuju desa. Rumah-rumah yang mulai jarang, tapi jalanan tetap saja mulus sampai tujuan. Ketika mulai memasuki kabupaten Pangkajene dan Kepulauan kita akan melewati hutan jati yang rimbun dikanan-kiri jalan. Lalu mulai bergantian dengan hutan rimba, savana, semak-semak dan banyak pemandangan indah dikiri-kanan jalan. Benar-benar memanjakan mata melihat jurang dan ngarai hijau diantara bukit kapur yang menjulang. 

 
 

1.       Ladang dan Kuda
Mulai memasuki daerah yang dituju , banyak terlihat pagar-pagar bambu dipinggir jalan. Tapi bukan memagari rumah, melainkan kebun dan sawah. Ceritanya, orang lokal sini banyak yang memelihara kuda. Dan kuda ini banyak yang dipelihara secara liar. Maksudnya mereka dibiarkan mencari rumput sendiri. Nah agar aktivitas merumput ini tidak mengganggu kebun, ladang, dan sawah warga, maka warga berinisiatif dengan memagari kabun mereka. Unik kan? Kenapa bukan kudanya saja yang dikandang? Buat saya ini cara yang sangat bijaksana dengan tidak mengganggu kemerdekaan si kuda. Di tempat mbah saya sudah tidak ada lagi sapi yang merumput diluar kandang. 
 








 
2.       Rumah dan sekitarnya
Rumah di desa Mario masih sangat tradisional yaitu rumah dengan bentuk panggung. Rata-rata semua warga rumahnya panggung. Sekalipun ada juga yang sudah punya rumah tembok dan bukan panggung. Tapi rumah panggung ini mengesankan sekali. Bahkan termasuk dapurpun juga ada diatas panggungnya. Diluar rumahnya juga tidak kalah menarik. Masih banyak terdapat batu-batu besar disekitar rumah, bahkan juga semak belukar dibelakang rumah masih muri alami tak tersentuh







3.       Pemakaman tanpa nama
Ketika kami diajak ke makam almarhum ibu dari adik ipar saya, ada terdapat pemakaman yang unik sekali. Kalau basanya pemakaman pasti ada symbol perbedaan keyakinan dan papan nama serta tempat tanggal lahir dan meninggal, maka disini semua itu tidak ada. Di pemakaman sini hanya ada dua perbedaan batu nisan yaitu laki-laki atau perempuan. Ditengah-tengah pusaranya ditancapkan batu panjang yang lumayan besar, dipusara tersebut tertancap satu batu atau dua. Kalau batu yang tertancap satu maka dia adalah laki-laki. Kalau yang tertancap dua, maka dia perempuan. Papan nama dan kejelasan identitas tidak ada sama sekali. Wow, unik sekali. Berarti yang rempong keluarga yang ditinggalkan dong ya? Masa harus ngapalin dimana aja letak makam leluhurnya itu. 




 4.       Kuda dan satenya
Ngomong-ngomong lagi tentang kuda. Para warga Mario memang banyak memelihara kuda daripada sapi. Bahkan kalo ada acara besar daging kuda ini pun juga mereka konsumsi. Ya seperti halnya didaerah lain yang mengolah sapi atau kambing gitu. Kebetulan saya sempat mencicipi sate kudanya. Enak sekali. Cuma saja dagingnya rada alot, biar begitu masih bisa digigit kok. Oya, Mario juga merupakan desa penghasil kemiri yang lumayan banyak juga lho.




 
5.       Keluarga
Pada akhirnya semua ini adalah untuk mempertemukan keluarga agar yang jauh semakin dekat dan kenal, dan semuanya bergembira. Dan si pengantin baru mendapat do’a khusus dari si tetua keluarga. Selamat ya?




Mario itu keren, kita seperti berada di balik gunung yang setengah lingkaran. Jadi setiap harinya matahari baru bersinar kira-kira pukul Sembilan pagi hehehhee.







Itulah Mario…..

Senin, 21 April 2014

Pantai Losari Makassar



Sebenarnya mumpung lagi ada di Makassar ni, jadi jangan cuma melewatkan waktu hanya dengan berdiam diri dirumah. Karena, sumpah! Makassar tu panaaaaasssss banget. Biarpun sudah menyalakan dua kipas angin, duduk sambil nonton tv, kurang santai apa coba, tapi tetap saja puanas menyengat. Yang ada malah masuk angin. Untuk itu pergilah kita ke pantai Losari.

Pantainya sih agak berbeda dengan pantai-pantai yang lain ya. Karrena biasanya yang namanya pantai itukan jauh dari kota/keramaian, udah gitu pasti ada nuansa pasir, kelapa, ombak, pelampung dll. Tapi disini nggak, jadi pantainya tu kayak dermaga gitu deh. Pasir tertutup beton/semen/paving blok. Udah gitu lalu lalang kendaraan juga dekat sekali. Sepertinya nggak susah kalo harus naik kendaraan umum untuk mencapai pantai ini. 

Pantai ini sangat layak buat menghabiskan waktu dengan keluarga di sore hari. Pantainya sangat aman, asal anak-anak tetap diawasi. Secara pribadi, saya yang lebih menyukai segala sesuatu untuk dinikmati sendiri, atau tempat-tempat indah yang tersembunyi,  pantai ini rada gimana gitu. Buat saya kurang nyaman untuk sendiri. Jadi ya bener pantai ini memang untuk keluarga, rame-rame gitu. Karena semakin menuju kearah senja, orang-orang akan mulai berdatangan ke pantai ini buat menikmati sunset yang kebetulan memang pas di pantai ini. 

Tapi saya tidak kecewa karena bnyak jajanan ditempat ini dengan harga yang murah meriah dan enak pula. Banyak para penjual menggelar dagangan dari gorengan, minuman, sampai buah atau rujak yang rasanya memang bener-bener pas buat dinikmati bersama. Saya sampai pengen nyobain semua jajanan. Habis itu naik sepeda air juga boleh hehehee.

Kalo mau jajanan yang lebih khas Makassar punya lagi, silahkan berjalan menjauh dari pantai. Dipinggir jalan raya banyak gerobak-gerobak yang menyediakan jajanan khas yang disebut dengan Pisang Epe. Itu semacam pisang yang belum begitu matang, trus dikupas dan dibakar. Habis dibakar pisangnya dipenyet dengan menggunakan alat khusus entah namanya apa. Pisang yang sudah dipenyet itu disajikan dengan gula merah yang sudah dicairkan. Karena pingin mengobati rasa penasaran, saya memesan satu porsi aja dulu buat rame-rame nanti kalo tertarik banget bisa nambah. Tapi wek!, perut saya langsung eneg, mual, karena rasa gula merah yang teramat manis dan kental sekali.  Sama halnya ketika mencoba minuman khas Makassar , Sarabak. Campuran gula merah dan jahe benar-benar sangat menarik tapi karena juga ada elemen santan dan susu yang tidak kalah kental juga membuat perut saya langsung diputer-puter. Ampun, nyerah, mungkin lidah saya masih lidah Jawa hahha.
Kalo mau memberi kan uang pada pengamen yang mampir didepan kita tanpa diundang, disarankan anda jangan memberi uang koin. Pengamen dipantai Losari tidak menerima uang koin. Maunya minimal seribu rupiah, hahahaha bisa-bisa mereka lebih kaya dari si penjual pisang epe. Atau mungkin di Losari pengamen memang sangat mulia. 


Kesendirian memang milik kita sendiri, harus diciptakan sendiri, apapun keadaannya.
Salam, Makassar 2012

Senin, 07 April 2014

Air Terjun, kupu-kupu Bantimurung





Buat mereka yang suka jalan-jalan dan kupu-kupu, singgahlah di Bantimurung yang ada di kabupaten Maros Sulawesi selatan ini. Disini terdapat penangkarang kupu-kupu berbagai macam jenis dan bentuk yang barangkali akan menarik perhatian orang yang suka. Saya sendiri bukan penyuka kupu-kupu, karena saya takut sekali terhadap ulat dan tidak ada alasan bagi saya untuk menyukai metamorfosanya.


Inilah hal pertama yang meyambut kedatangan para pengunjung setibanya di lokasi Bantimurung. Sebuah miniatur, oh bukan kalo yang ini maksimatur, kupu-kupu yang sangat besar sekali. Katanya yang terpampang itu adalah jenis kupu-kupu, yang paling indah, yang paling berharga atau apalah itu. Saya sendiri tidak berani membayangkan dengan kupu-kupu yang sebesar itu bagaimana bentuk atau sebesar apa dia sebelum bermetamorfosa? Kalo dipikir-pikir terus bikin bulu tengkuk berdiri, dan seperti ada yang menggaruk-garuk halus punggung saya. Ngeeri!


Tapi untunglah, Bantimurung bukan hanya punya kupu-kupu. Ada sebuah air terjun di lokasi ini yang disebut juga dengan air terjun Bantimurung. Hal ini sedikit melegakan, daripada saya harus masuk musium kupu-kupu bersama pemandu , dengan buku catatan ditangan dan menanyainya bahwa kupu-kupu itu jenisnya apa saja?, namanya apa? Yang paling langka yang mana? Makanannya apa? Kalo tidur sama siapa? Ah, tidak. Kayak pelajaran IPA SD.

Ini dia air terjun Bantimurung itu. Saya hampir selalu menggambarkan air terjun dengan sesuatu yang angkuh, kejam, sinis, sendiri, dan kesepian.  Tapi saya melihat ini agak beda, barangkali dia tetap angkuh tapi tidak kejam karena aliran airnya tidak deras sama sekali. Aliran air tidak begitu curam, melebar dari atas ke bawah. Tidak menghanyutkan. Orang-orang bisa bermain dibawahnya, bahkan makan, minum, ngobrol, mungkin juga tidur.
Ayo gembira ria dulu…….







Hei itu aku!

Balik lagi ke kupu-kupu nih. Gambar rumah diatas adalah tempat segala hal orang bertanya tentang kupu-kupu. Sedangkan diluaran, ditempat orang keluar-masuk lokasi penangkaran atau air terjun, ada berbanjar deretan orang menjual souvenir. Ada juga terdapat souvenir yang juga terdapat ditempat lain seperti gelang, kalung, gantungan kunci, tapi dll. Dan cirikhas disini adalah kupu-kupu yang sudah dikeringkan! Atau diawetkan! Jelas mati, bukan hidup. Biar menarik dipercantik dengan bingkai, dalam satu bingkai bisa terdiri dari beberapa kupu-kupu yang sudah diawetkan. Harga dimulai dari 20rb.



Tapi ah, rasanya kok masih ngeri kalo harus menggantung bekas makhluk hidup didinding ruang tamu. Ih, ngeri! Biar cantik tapi ngeri. Ah biar ngeri tapi cantik.

Mungkin begini ngeri dan cantik itu hahahahaa

Kenapa view ini mesti menunjukkan dua hal itu, sebuah title taman nasional dan dibawahnya sebuah tempat ibadah? Simbol kekuasaan dimasa lalukah? Ah, sesak selalu bila segalanya selalu dikaitkan dengan kekuasaan. Ngeri.